1.Pengertian agama baik secara etimologis maupun
secara terminologis :
Agama
yang sudah menjadi bahasa Indonesia, secara etimologis berasal dari
bahasa Sanskerta terdiri dari kata: a artinya tidak, gama artinya kacau.
Agama berarti
tidak kacau. Sebagian yang lain mengartikan a adalah cara,
Agama adalah jalan. Agama berarti
cara jalan, maksudnya cara berjalan menempuh keridaan Tuhan.
Secara
terminologis, Hasby as-Shiddiqi mendefinisikan agama sebagai dustur
(undang-undang)
ilahi yang didatangkan Allah buat menjadi pedoman hidup dan
kehidupan manusia di alam dunia untuk mencapai kerajaan dunia dan kesentosaan
di akhirat. Agama adalah peraturan Tuhan yang diberikan kepada manusia
yang berisi sistem kepercayaan, sistem penyembahan dan
sistem kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
sistem kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
2. Klasifikasi agama menurut al-Maqdoosi :
Menurut
al-Maqdoosi agama diklasifikasikan menjadi 3 kategori:
1) agama
wahyu dan non-wahyu,
2) agama misionaris
dan non-misionaris, dan
3) agama
lokal dan universal.
3. Pengertian moral, budi pekerti, akhlak, etika
dan hubungan di antara semuanya :
Moral
Jika kita
perhatikan lebih mendalam definisi tentang moral, kita bias memahami bahwa
moral adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang mempunyai nilai baik
atau buruk, salah atau benar, layak atau tidak layak. Ketika seseorang
mengatakan bahwa ia moralnya buruk. Artinya
adalah bahwa apa yang dilakukannya itu mempunyai sifat buruk atau tidak layak atau tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebaliknya kalau dikatakan ia moralnya baik berarti apa yang dilakukannya itu mempunyai nilai baik karena sesuai dengan ketentuan umum dan layak untuk dilakukan.
adalah bahwa apa yang dilakukannya itu mempunyai sifat buruk atau tidak layak atau tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebaliknya kalau dikatakan ia moralnya baik berarti apa yang dilakukannya itu mempunyai nilai baik karena sesuai dengan ketentuan umum dan layak untuk dilakukan.
Budi Pekerti
Secara etimologis kata susila berasal dari bahasa Sanskerta,
yaitu su dan sila. Su berarti baik, bagus, dan sila berarti dasar, prinsip,
peraturan hidup, atau norma. Secara terminologi, susila adalah aturan-aturan
hidup yang baik. Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik,
sedangkan orang yang a susila adalah orang
yang berkelakuan buruk. Susila biasanya
bersumber pada adat yang berkembang di masyarakat setempat tentang suatu perbuatan itu tabu atau tidak tabu, layak atau tidak layak. Dengan demikian susila menunjuk pada arti perilaku baik yang dilakukan seseorang. Sementara budi pekerti merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti. Kata budi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sadar, yang
menyadarkan, alat kesadaran. Budi secara istilah adalah yang ada pada manusia yang berubungan dengan kesadaran yang didorong oleh akal. Sementara, pekerti apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan.
bersumber pada adat yang berkembang di masyarakat setempat tentang suatu perbuatan itu tabu atau tidak tabu, layak atau tidak layak. Dengan demikian susila menunjuk pada arti perilaku baik yang dilakukan seseorang. Sementara budi pekerti merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti. Kata budi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sadar, yang
menyadarkan, alat kesadaran. Budi secara istilah adalah yang ada pada manusia yang berubungan dengan kesadaran yang didorong oleh akal. Sementara, pekerti apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan.
Budi pekerti adalah perpaduan dari hasil akal
dan rasa yang berwujud pada karsa dan tingkah laku manusia. Selanjutnya kata
susila sering disempitkan artinya menjadi sopan, beradab, baik budi bahasanya.
Tidak salah memang karena susila menyangkut pula kesopanan dan keadaban hanya
saja yang termasuk ke dalam susila itu bukan hanya sopan dan beradab serta
halus tutur katanya. Ltu hanya sebagian saja.
AKHLAQ
Akhlak
berasal dari bahasa Arab, yang merupakan bentukjamak (plural) dari khuluq (~).
Secara bahasa akhlak mempunyai arti tabiat, perangai, kebiasaan, atau karakter.
Menurut kamus al-Munjid, kata akhlak mempunyai akar yang sama dengan
kata khalqun ~ (kejadian), khaliqun
~~ (pencipta) dan makhluqun l.9~ (yang diciptakan). Dalam arti bahasa akhlak sering disinonimkan dengan moral dan etika. Berdasarkan arti akhlak secara bahasa, arti istilah akhlak yang dikemukakan oleh para ulama juga mengacu pada masalah tabiat atau kondisi batin yang mempengaruhi perilaku manusia. Berikut ini adalah pengertian akhlak secara istilah dari sebagian para ulama: Ahmad Amin dalam bukunya Al-Akhlak mendefinisikan akhlak sebagai kehendak yang biasa dilakukan. Artinya segala sesuatu kehendak yang terbiasa dilakukan disebut akhlak.
~~ (pencipta) dan makhluqun l.9~ (yang diciptakan). Dalam arti bahasa akhlak sering disinonimkan dengan moral dan etika. Berdasarkan arti akhlak secara bahasa, arti istilah akhlak yang dikemukakan oleh para ulama juga mengacu pada masalah tabiat atau kondisi batin yang mempengaruhi perilaku manusia. Berikut ini adalah pengertian akhlak secara istilah dari sebagian para ulama: Ahmad Amin dalam bukunya Al-Akhlak mendefinisikan akhlak sebagai kehendak yang biasa dilakukan. Artinya segala sesuatu kehendak yang terbiasa dilakukan disebut akhlak.
Etika
Etika secara etimologis (berdasarkan asal-usul kata) berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara istilah etika adalah ilmu yang membicarakan tentang tingkah laku manusia. Sebagian ahli yang lain mengemukakan definisi etika sebagai teori tentang laku perbuatan manusia dipandang dari segi nilai baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan akal.
Etika secara etimologis (berdasarkan asal-usul kata) berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Secara istilah etika adalah ilmu yang membicarakan tentang tingkah laku manusia. Sebagian ahli yang lain mengemukakan definisi etika sebagai teori tentang laku perbuatan manusia dipandang dari segi nilai baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan akal.
Hubungan di antara semuanya :
Jika kita
perhatikan semua uraian tentang moral, susila, budi pekerti, akhlak, dan etika
maka kita bisa menyimpulkan bahwa dari segi fungsinya, semuanya berfungsi
sebagai pengarah atau petunjuk agar seseorang mengetahui mana perbuatan yang
baik dan mana yang buruk. Dengan itu manusia diharapkan senantiasa melakukan
perbuatan-perbuatan yang baik
agar tercipta sebuah masyarakat dengan warganya yang baik, sopan. Kemudian dari sisi sumber, etika bersumber pada rasio sedangkan akhlak bersumber pada Al-Quran dan Hadits sementara rasio hanya pendukung terhadap apa yang telah dikemukakan oleh Al-Quran dan Hadits.
Sementara moral dan susila atau budi pekerti umurnnya berdasarkan pada ketentuan atau kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Selain itu, etika (ilmu akhlak) bersifat teoretis sementara moral, susila, akhlak lebih bersifat praktis. Artinya moral itu berbicara soal mana yang baik dan mana yang buruk, susila berbicara mana yang tabu dan mana yang tidak
tabu, akhlak berbicara soal baik buruk, benar salah, layak tidak layak. Sementara etika lebih berbicara kenapa perbuatan itu dikatakan baik atau kenapa perbuatan itu dikatakan buruk. Etika menyelidiki, memikirkan dan mempertimbangkan tentang yang baik dan burnk, moral menyatakan ukuran yang baik tentang tindakan itu dalam kesatuan sosial tertentu. Moral itu hasil dari penelitian etika.
agar tercipta sebuah masyarakat dengan warganya yang baik, sopan. Kemudian dari sisi sumber, etika bersumber pada rasio sedangkan akhlak bersumber pada Al-Quran dan Hadits sementara rasio hanya pendukung terhadap apa yang telah dikemukakan oleh Al-Quran dan Hadits.
Sementara moral dan susila atau budi pekerti umurnnya berdasarkan pada ketentuan atau kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Selain itu, etika (ilmu akhlak) bersifat teoretis sementara moral, susila, akhlak lebih bersifat praktis. Artinya moral itu berbicara soal mana yang baik dan mana yang buruk, susila berbicara mana yang tabu dan mana yang tidak
tabu, akhlak berbicara soal baik buruk, benar salah, layak tidak layak. Sementara etika lebih berbicara kenapa perbuatan itu dikatakan baik atau kenapa perbuatan itu dikatakan buruk. Etika menyelidiki, memikirkan dan mempertimbangkan tentang yang baik dan burnk, moral menyatakan ukuran yang baik tentang tindakan itu dalam kesatuan sosial tertentu. Moral itu hasil dari penelitian etika.
4. Agama sumber akhlak :
Peran
agama sangat penting dalam kehidupan manusia, salah satunya, sebagai sumber
akhlak. Agama yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan sangat efektif dan
memiliki daya tahan yang kuat dalam mengarahkan manusia agar tidak melakukan
tindakan amoral. Berbeda dengan akal manusia yang tidak memiliki daya tekan
karena sifatnya yang relatif sehingga moral yang dihasilkannya akan mengalami
perubahan seiring dengan perubahan waktu dan tempat. Hal ini dirasakan oleh
manusia modem di mana akhlak yang ditentukan oleh akal telah membuat manusia
modern kehilangan arah, orientasi hidup dan tujuan luhur sebagai manusia yang
diciptakan.
diciptakan.
Karena
itu, menempatkan agama pada posisi semula bisa menjadi
penawar kebingungan manusia modem. Moral yang bersumber agama bersifat mutlak, permanen, eternal dan universal. Ia tidak tunduk kepada ruang dan waktu. Nilai-nilai moral dalam Islam berlaku untuk semua orang dan semua tempat tanpa memandang latar belakang etnis kesukuan, kebangsaan, dan sosio-kultural serta lingkungan geografis mereka. Karena
sifatnya yang eternal tersebut, maka moral Islam menjadi pijakan dan pedoman.
penawar kebingungan manusia modem. Moral yang bersumber agama bersifat mutlak, permanen, eternal dan universal. Ia tidak tunduk kepada ruang dan waktu. Nilai-nilai moral dalam Islam berlaku untuk semua orang dan semua tempat tanpa memandang latar belakang etnis kesukuan, kebangsaan, dan sosio-kultural serta lingkungan geografis mereka. Karena
sifatnya yang eternal tersebut, maka moral Islam menjadi pijakan dan pedoman.
5. pengertian agama sebagai sumber akhlak.
Mukti
Ali, mantan menteri agama pemah mengatakan, "Agama
menurut kami, antara lain memberi petunjuk, bagaimana moral itu
harus dijalankan, agamalah yang memberikan hukum-hukum moral. Dan karenanya
agamalah sanksi terakhir bagi semua tindakan moral, sanksi agamalah yang
membantu dan mempertahankan cita-cita etik." Hamka mengatakan bahwa,
"agama ibarat tali kekang, yaitu tali kekang dari pengumbaran pikiran
(yang liar/binal), tali kekang dari pengumbaran hawa nafsu (yang angkara murka), tali kekang dari pada ucap
dan perilaku (yang
keji dan biadab)."
Dan peranan agama yang sedemikian penting bagi kehidupan
moral manusia, juga diakui oleh W.M Dixon. Dalam
bukunya, The Human Situation, antara lain ia menyatakan bahwa
"agama, betul atau salah, dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan
kehidupan akhirat yang akan dating dalam keseluruhannya, kalau tidak
satu-satunya, paling sedikit kita boleh
percaya, merupakan dasar yang paling kuat bagi moral. Dengan mundumya agama dan sanksi-sanksinya, maka menjadi masalah yang sangat mendesak: apakah yang bisa mengganti agama itu? Apakah pembantu etika yang mempunyai kekuatan yang sama, kalau memang ada yang mempunyai kekuatan yang bisa menggantikannya?."
percaya, merupakan dasar yang paling kuat bagi moral. Dengan mundumya agama dan sanksi-sanksinya, maka menjadi masalah yang sangat mendesak: apakah yang bisa mengganti agama itu? Apakah pembantu etika yang mempunyai kekuatan yang sama, kalau memang ada yang mempunyai kekuatan yang bisa menggantikannya?."
Terima Kasih
0 comments:
Post a Comment