Friday, 13 January 2012

Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:
“Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:
“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku
berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di
rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa
lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk
pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia
dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika
sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan
keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami
semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke
punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin
menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau
lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya
merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak
lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan
menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh
urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai
dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku
itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang
mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah
sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!”
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera
membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam
pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan
suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak
ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk
sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan
anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin
anakku menirumu, wahai Nabi.
Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran
dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati.
Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang
putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa
tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan
seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu
mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi
keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan
dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan
sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi
jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke
pelukan suamiku. Aku bilang:
“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian
menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa
berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan
betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan
yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi
rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah
SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang
sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
9
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.
SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat….

Saturday, 7 January 2012

8 Wanita yang Sebaiknya Tak Dijadikan Kekasih

Memilih calon kekasih itu memang tak memandang status dari sang calon kekasih. Cinta bisa hadir dari mana saja, tak perduli dengn staus gadis, janda atau kekasih orang lain.
Akan tetapi Alangkah baiknya Anda menyeleksi calon kekasih yang akan Anda pacari. Latar belakang calon kekasih yang akan Anda pacari akan berpengaruh pada hubungan Anda kedepannya. Ada beberapa latar belakang wanita yang mungkin baiknya Anda hindari untuk Anda jadikan kekasih.
Berikut beberapa latar belakan wanita yang sebaiknya tak anda pacari dikutip dari menjelma :

1. Adik dari sahabat
Mungkin si dia memang imut karena masih polos, namun jika niat Anda mencari pasangan hanya untuk bersenang-senang, sebaiknya lupakan si dia. Bukannya apa-apa, selain Anda harus menjaganya seperti permata, Anda juga tak bisa bebas hang-out dengan teman-teman lain tanpa “dimata-matai” oleh sahabat. Nah atas nama persahabatan, sebaiknya lupakan golongan wanita ini.

2. Teman sekantor
Ada banyak alasan mengapa Anda sebaiknya tak mencampur bisnis dengan pleasure. Lagi-lagi ini demi kebaikan Anda sendiri. Selain dapat menimbulkan skandal kurang sedap di lingkungan kerja, bisa-bisa Anda berdua dianggap tak profesional kala terpaksa beradu mulut seputar hubungan kasih Anda berdua. Yang lebih parah lagi, jika hubungan kasih tersebut putus di tengah jalan, bukan tak mungkin jadi bahan gosip orang-orang sekantor.

3. Sang mantan
Single terkadang memang tak enak, karena itu tak heran Anda cenderung kembali menghubungi mantan apalagi jika ternyata sang mantan juga belum menemukan tambatan hati. Namun kembali mengencani sang mantan tak selalu merupakan pilihan bijaksana.
Memang si dia sudah sangat mengenal dan hafal dengan kebiasaan Anda, tapi siapa tahu seberapa dalam luka yang masih menganga di hati sang mantan? Mengencaninya kembali hanya beresiko menyakiti dia lebih dalam lagi. Sebaiknya lupakan saja ide itu dan buka lembaran baru dalam hidup Anda.

4. Gadis satu malam
Bagi Anda yang sering berkecimpung di dunia malam, tentu tak asing lagi dengan gadis-gadis yang banyak dijumpai di berbagai tempat hiburan malam. Mungkin saja gadis-gadis itu bukan kupu-kupu malam, tapi mengencani wanita tipe ini memiliki resiko yang cukup tinggi.
Selain Anda belum mengenal sifat-nya, Anda juga pastinya tak tahu latar belakang kesehatannya bukan? Rasanya tak lucu jika Anda terjangkit penyakit menular seksual hanya karena kenikmatan semalam. Nah, tentu Anda dapat memutuskan sendiri mana yang terbaik bagi Anda.

5. Mantan kekasih sahabat
Ketika Anda menjadi saksi insiden putusnya hubungan asmara sahabat dan kekasihnya yang seksi, mungkin hati Anda akan bersorak karena itu berarti terbukanya kesempatan bagi Anda untuk mendekati gadis seksi yang sedang bersedih hati tersebut.
Namun sadarkah Anda akan konsekuensi yang harus dihadapi jika Anda menjadikan mantan kekasih sahabat Anda menjadi pasangan Anda, terutama jika sang sahabat ternyata masih memiliki perasaan mendalam terhadap mantannya itu. Selain rasanya tak etis, bukan tak mungkin persahabatan jadi retak karena Anda dianggap tak setiakawan.

6. Gadis materialistis
Jika Anda masih memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi sebagai pria, rasanya tak perlu terlalu ngoyo mempertahankan si gadis materialistis sebagai pasangan. Mungkin si dia memang cantik, penampilannya pun selalu penuh gaya, namun jika segala sesuatu dinilai dengan uang, rasanya Anda berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari itu.
Anda tak mau kan diperas habis-habisan dan kemudian ditinggalkan begitu saja setelah si dia puas menggerogoti isi kantong Anda? Nah, sebaiknya Anda berpikir ulang sebelum mendekati tipe wanita seperti ini.

7. Sang penari
Dibandingkan gadis satu malam, tentu saja tipe wanita ini lebih minus. Sadarlah, si dia membuka pakaiannya bukan untuk mendapatkan uang demi melanjutkan sekolahnya.
Yah, mungkin keberuntungan belum berpihak pada si dia sehingga si dia terjerumus dalam lembah seperti itu, namun jika Anda memutuskan untuk merajut jalinan kasih dengan tipe wanita seperti ini, cepat atau lambat Anda akan mendapati diri Anda “berperan” sebagai pengawal-nya.
Dapatkah Anda membayangkan bagaimana cara menjaga dirinya agar tidak disentuh oleh tangan-tangan pria iseng lain yang ingin mencari pemuas dahaga sesaat? Sadarlah bahwa Anda tak mungkin selamanya menjaganya.

8. Sahabat
Seringkali hubungan yang diawali dengan persahabatan berlanjut menjadi cinta tidak berjalan mulus .Perasaan saling peduli akan tetap hidup akan tetapi bisa menjadi mati saat terjadi sesuatu diantara pasangan yang dulunya sahabat ini. Biasanya disaat salah satunya melakukan kesalahan, maka “ngambek”-nya akan lama sekali dikarenakan satu sama lain sudah saling mengenal baik terlebih dahulu.