Monday, 20 February 2017

:: KETEGUHAN HATI MENJEMPUT MATI ::

Berlatar belakang pada zaman beberapa tahun menjelang kenabian nabi Muhammad, seorang pencari kebenaran menembus batas wilayah memutus waktu, dari negeri Syam yang menawarkan keindahan dunianya menuju Madinah dataran kering yang dikelilingi bukit batu hitam, demi sebuah hidayah, demi kedamaian hati, bahkan kebahagiaan abadi dan ketenangan hakiki di akhirat nanti.

                     


Adalah Ibnul Hayyiban, seorang ahli kitab. Ia adalah seorang Yahudi yang taat dan jujur, ia masih berpegang teguh dengan Taurat, tidak sebagaimana peganut Yahudi yang membangkang dn berupaya menghindar dari hukum Taurat, bahkan, bukan hal bagi ereka untuk merubah isi kandungan Taurat, umat yang terlaknat, umat yang telah terlalu akrab dengan perbuatan makar dan muslihat, bukan hanya jahat kepad sesama makhluk, bahakan kepada nabi dan pencipta seluruh jagad.

Ketika membaca Taurat , Ibnul Hayyiban mendapat berta nabi akhir zaman, Nabi terakhir yang mebawa misi kedamaian untuk semesta alam. ahlul kitab tidak teranggap sebagai kaum beriman sampai beeriman dengan nabi terkahir dan kitab terakhir, kitab yang memernakan kitab samawi sebelumnya.

Keselamatan akhirat adalah segala-galanya, Ibnu Hayyibansegera bulatkan tekad,segala sesuatu yang mendukung safar dipersiapkan, Syam menuju Madinah waktu itu ditempuh satu bulan perjalanan, kampung halaman ditinggalkan, sanak saudara dan handai taulan diabaikan, dunia pun diacuhkan, karena keselamatan akhirat adalah segala-galanya.

Perjalanan agung dimulai, langkah demi langkah tidak lain mendekatkan ke Syurga, hari berganti hari menyogsong kebahagiaan dalam kenikmatan abadi, bukahkah kita semua sedang safar ? hanya ada dua tempat tujuan, surga atau neraka, tidak ada tempat ketiga.

Setelah menempuh perjalanan jauh , sampailah di kota tujuan, Madinah. Tepatna di Bani Quraidzah, Ibnul Hayyian tinggal di tengah-tengah kabilah Yahudi itu beberapa lama, hari-hari selalu diisi dengan ibadah, tinggal didaerah asiing tidaklah menyurutkan ibadahnya, ilmu yang dimiliki benar-benar terwujud dalam amalan sehhari-hari.

Ibnul Hayyiban memang lain, seorang tua dari bani Quraidzah mempersaksikan, " Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun yang lebih baik ibadahnya dari  pada Ibnul Hayyiban. Ia tinggal bersama kami, ketika musim kemarau panjang kami memintanya untuk keluar, " Keluarlah wahai Ibnul Hayyiban, mintalah hujan kepada Allah untuk kami", mendengar permintaan Bani Quraidzah , Ibnul Hayyiban memberikan syarat, " tidak! Demi Allah, sampai kalian mempersembahkan sedekah terlebih dahulu",( karena sedekah akan memupus kesombongan dan menikis sikap egois ), "Berapa ?
" mereka bertanya. " Satu Sha' krma atau dua mud gandum", jawab Ibnul Hayyiban. Bani Quraidzah pun mengeluarkan sedekah itu, setalah itu, Ibnul Hayyiban keluar menuju tanah lapang, ia meminta hujan kepada Allah, Demi Allah , iia masih berada di tempat duduknya , tiba-tiba berbondong-bondong awan berarak, akhirnya hujan tercurah. Hal itu terjadi tidak hanya sekali tapi berkali-kali, demikian lanjut cerita orang tua dari Bani Quraidzah.

Ketika Ibnul Hayyiban dala keadaan menjelang kematian , ia mengatakan, " Wahai sekalian Yahudi, tahukah kalian kenapa aku pergi dari negeri Syam  yang penuh khamr dan adonan roti beragi ( kenikmatan ) menuju daeraah ini, daerah yang penuh kesengsaraan dan kelaparan?" "anda lebih tahu.". " Aku datang kesini hanya untuk menuggu keluarnya seorang nabi, sungguh sudah tiba zamannya, negeri ini adalah tempat hijrahnya, aku berharap nabi itu segera diutus sehingga aku bisa mengikutinya, telah tiba kepada kalian zamannya , maka sekali-kali jnganlah kalian didahului orang lain wahai sekalian Yahudi", demikianlah pesan emas dari seorang ahli ibadah Yahudi yang masih berpegang teguh dengan kemurnian kitab suci.

Singkat kisah, ketika Rosulullah diutus dan mengepung Bani Quraidzah , beberapa orang yang beriman dengan wasiat Ibnul Hayyiban mengatakan " Wahai bani Quraidzah , demi Allah , ia adalahh nabi yang disampaikan oleh Ibnul Hayyiban", "bukan ini ", sahut mereka, "iya, dialah nabi sesuai dengan sifat yang disebutkan, demi Allah", maka sekelompok mereka  itu turun dari benteng bani Quraidzah dan masuk Islam, maka selamatlah harta, darah dan keluarga mereka.

Kisah ini disadur dari Sirah ibnu Hisam, dari penuturan Ashim bin Umar bin Qatadah yang mendapatkan kisah secara langsung dari seorang tua bani Quraidzah.

dikutip dari : Majalah Qudwah edisi 46  

0 comments:

Post a Comment